Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa


 A.    PENGERTIAN FILSAFAT/FALSAFAH

Ditinjau dari arti bahasa/etimologi, perkataan filsafat merupakan bentuk kata “Falsafat”, yang semula berasal dari kata Yunani Philosophia, dengan uraian sebagai berikut:
Philos/philein berarti suka, cinta, mencintai. Sophia berarti kebijaksanaan, hikmah, kepandaian, ilmu. Jadi mengandung arti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada ilmu. Falsafah ini dalam bahasa Belanda digunakan istilah wijsbegeerte yang mengandung pengertian keinginan untuk ilmu. Dalam arti praktis filsafat mengandung makna alam berpikir atau alam pikiran. Namun berfilsafat adalah berpikir secara mendalam atau radikal. Radikal berasal dari kata radix, yang artinya “akar”. Maka berpikir secara radikal berarti berpikir sampai keakar-akarnya, dan sungguh-sungguh terhadap hakikat sesuatu. Dalam kamus bahasa Indonesia karangan W.J.S Poerwadarminta (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1987) mengartikan kata “filsafat” sebagai pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab-sebab, asas-asas, hukum dan sebagainya daripada segala yang ada di alam semesta ataupun mengenai kebenaran dan arti adanya sesuatu.

Dalam kamus bahasa Indonesia karangan W.J.S Poerwadarminta (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1987) mengartikan kata “filsafat” sebagai pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab-sebab, asas-asas, hukum dan sebagainya daripada segala yang ada di alam semesta ataupun mengenai kebenaran dan arti adanya sesuatu.

Selain pengertian menurut bahasa, juga terdapat perumusan atau defenisi tentang filsafat yang diberikan oleh para sarjana atau filsuf seperti :

1.Aristoteles (382-322 S.M) Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya dalam ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, politik, dan sostetika.

2.Immanuel Kant (1724-1804) Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal segala pengetahuan[1].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. B.     OBYEK FILSAFAT/FALSAFAH.

Ditinjau dari segi obyeknya, maka obyek filsafat meliputi hal-hal yang ada dan yang dianggap atau diyakini ada, seperti manusia, dunia, Tuhan dan lain-lain, sehingga dengan demikian berfilsafat itu tidak mungkin mengenai hal-hal yang tidak ada. Sehubungan dengan hal tersebut para ahli membedakan obyek filsafat atas:
1. Obyek Materia, yaitu mengenai segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada,

2. Obyek Forma, yaitu untuk mengerti segala sesuatu yang ada sedalam-dalamnya, hakikatnya, metafisis. Dengan ruang lingkup demikian, filsafat mempunyai sistematika yang amat luas, yang meliputi bidang-bidang/cabang-cabang diantaranya Ontologi (menyelidiki hakikat dari realita yang ada), Epistemologi (membahas sumber, batas, proses hakikat dan validitas pengetahuan), dan Aksiologi (menyelidiki nilai)[2].

  1. C.    TUJUAN FILSAFAT/FALSAFAH

Tujuan filsafat dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

1. Tujuan yang teoritis, Dalam hal ini filsafat berusaha untuk mencapai kenyataan, atau untuk mencapai hal yang nyata.

2. Tujuan praktis, Dalam hal ini mempergunakan hasil daripada filsafat yang teoritis tersebut untuk memperoleh pedoman-pedoman hidup, guna dipraktikkan dan dijadikan pedoman dalam praktik kehidupan.Tujuan praktis inilah yang umumnya dia anut oleh dunia Timur, termasuk Indonesia[3].

  1. D.    FALSAFAH HIDUP BANGSA INDONESIA

Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia dapat digolongkan ke dalam macam falsafah dalam arti produk, sebagai pandangan hidup, dan falsafah dalam arti praktis. Ini berarti falsafah Pancasila mempunyai fungsi dan peranan sebagai pedoman dan pegangan dalam hal sikap, tingkah laku, dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bagi bangsa Indonesia di manapun mereka berada.  Prinsip-prinsip yang terdapat dalam Pancasila bersumber kepada budaya dan pengalaman bangsa Indoneisa, yang berkembang akibat dari upaya bangsa dalam mencari jawaban atas persoalan-persoalan yang esensial yang menyangkut makna atas hakikat sesuatu yang menjadi bagian dari kehidupan bangsa Indonesia, yang meliputi antara lain:

  1. Alam semesta, seperti bagaimana alam semesta ini terbentuk, hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam alam semesta, dan sebagainya.
  2. Manusia dan kehidupannya; siapa sebenarnya manusia, asalnya, dan kemana kembalinya.
  3. Nilai-nilai yang kemudian diangkat menjadi norma-norma yang mengatur kehidupan; seperti nilai-nilai tentang bagamana baik dan buruk. Pancasila merupakan falsafah hidup bangsa Indonesia yang mengandung nilai-nilai dasar yang dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia, bahkan bangsa-bangsa yang beradab.

Nilai-nilai dasar yang dimaksud ialah nilai Ketuhaan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan sosial, atau bagi bangsa Indonesia rumusan setepatnya daripada nilai-nilai dasar tersebut dimuat dalam alinea keempat dari pembukaan UUD 1945.

Bagi bangsa Indonesia, nilai-nilai Pancasila ini merupakan kesatuan yang bulat dan utuh, yang tersusun secara sistematis-hierarkis, artinya bahwa antara nilai dasar yang satu dengan nilai dasar lainnya saling berhubungan, tidak boleh dipisah-pisahkan, dipecah-pecahkan maupun ditukar tempatnya untuk menghindari pengertian yang keliru terhadap Pancasila. Dalam rangka memahami hakikat nilai-nilai dasar Pancasila, pengupasan sila demi sila tidak dilarang, asalkan senantiasa berpijak pada adanya hubungan korelasi tersebut secara utuh, tanpa bermaksud mengahapuskan ataupun mengubah susunan tempat, status daripada sila-sila yang ditetapkan. Pancasila yang sarat dengan nilai-nilai ini tidak sekedar untuk diketahui, melainkan dimaksudkan untuk dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan pribadi, maupun dalam rangka kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai dengan tujuan praktis daripada suatu filsafat yang dalam hal ini berkenaan dengan filsafat Pancasila. Nilai yang dalam bahasa Inggris disebut Value adalah sesuatu yang diinginkan (positif) atau sesuatu yang tidak diinginkan (negatif).  Menilai mengandung arti menimbang, yaitu kegiatan manusia menghubungkan sesuatu dengan sesuatu, dan selanjutnya mengambil keputusan, atau menilai dapat berarti menimbang dan memperbandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lainnya untuk kemudian mengambil sikap atau keputusan. Hasil pertimbangan dan perbandingan itulah yang disebut nilai. Sesuatu dapat dikatakan mempunyai nilai bila sesuatu ini berguna/bermanfaat, benar, indah, baik, dan religius.

Menurut Notonegoro, nilai dapat dibedakan ke dalam 3 macam:

  1. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur manusia.
  2. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat melakukan kegiatan atau aktifitas.
  3. Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Nilai kerohanian ini dapat dibedakan menjadi nilaii kebenaran, nilai keindahan, nilai kebaikan, dan nilai religius.

Pancasila tergolong sebagai nilai kerohanian, yakni di dalamnya terkandung nilai-nilai secara lengkap dan harmonis, baik nilai material, nilai vital, nilai kebenaran, nilai esthetis, nilai etis, maupun religius[4].

  1. E.     RELEVANSI PANCASILA BAGI KEHIDUPAN BERMASYARAKAT.

Pancasila merupakan ideologi bangsa Indonesia, yang merupakan sumber dari segala Hukum di Indonesia. Ketika pancasila dikatakan sebagai dasar berbangsa dan bernegara di Indonesia, Timbul pertanyaan kemudian, Apakah keberadaan Pancasila Saat ini masih Relevan Untuk di terapkan.?

Tanggal 1 juni di peringati sebagai hari lahirnya pancasila, dimana pancasila sebagai nilai-nilai luhur bangsa di cetuskan oleh para funding fathers bangsa. Yang memiliki cita-cita dan tujuan bersama saat itu. Saat itu menjadi keputusan dalam sidang BPUPKI  terdapat  Butir-Butir Pancasila yang sampai saat ini masih di gunakan di Indonesia antara lain :

1.      KETUHANAN YANG MAHA ESA.

2.      KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERDAB.

3.      PERSATUAN INDONESIA

4.      KERAKYATAN YANG DI PIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN.

5.      KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA.

Dari kelima butir pancasila tersebut saya akan memilih satu untuk di bahas lebih detail dan lebih dekat tentang relevansinya di Indonesia saat ini. “Ketuhanan Yang Maha Esa” ini yang akan di bahas selanjutnya.

Sila pertama “Ketuahanan yang maha Esa”
Makna sila ini adalah:

* Percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

* Hormat dan menghormati serta bekerjasama antara pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.

* Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.

* Tidak memaksakan suatu agama atau kepercayaannya kepada orang lain.

Ketika di Indonesia terjadi Konflik akibat perbedaan kepercayaan, dapatkah kita mengatakan bahwa pancasila masih Relevan untuk di terapkan di Indonesia?
Maraknya konflik-konfilk sosial belakangan ini, bisa jadi merupakan gejala Instabilitas nasional, kita lihat dimana terjadi kekerasan dengan berbagai latar belakang. Satu diantaranya adalah Agama. Dimasyarakat kita, sering kita melihat kekerasan sering dilakukan oleh kelompok ajaran agama tertentu atas nama membela agama dari gangguan-gangguan luar yang coba merusakknya.
kurangnya pendalaman akan Pancasila saat ini akan membawa kondisi bangsa ke arah yang tidak tidak stabil. Sikap toleransi antara masyarakat pun akan menjadikan konflik yang berkepanjangan dalam masyrakat.

Dari sinilah pancasila seharusnya mengambil peranan dalam mempersatukan bangsa khususnya perbedaan-perbedaan keyakinan dalam masyarakat, sehingga konflik-konflik yang sering terjadi bisa di redam dengan sikap saling menghargai antar pemeluk agama di Indonesia.kehidupan beragama masyarakat Indonesia, ia berada dalam lingkup pribadi, atau komunitas-komunitas keagamaan. Semua ajaran-ajaran keagamaan silahkan dijalankan tapi asalkan tidak menggangu ketentraman yang berbeda keyakinan.

inilah pentingnya pengenalan akan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila kepada para Generasi Muda saat ini, nilai pancasila patut di tanamkan sejak dini sehingga Pancasila sebagai dasar negara dapat membuat generasi muda menjadi lebih memiliki percaya diri ketika berkompetisi di tingkat global.Pancasila bukan sekadar simbol pemersatu.Ia esensi dari kebersamaan dan keberagaman yang ada di Indonesia[5].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s