Khawarij – Syiah dan Mujiah


islam (1)Islam adalah agama samawi yang diwahyukan Allah Swt kepada nabi Muhammad SAW untuk seluruh umat manusia di segala zaman dan tempat.Inti ajarannya adalah tauhid (keEsaan Allah SWT).Meskipun ajaran pokok agama Islam adalah akidah, namun masalah yang pertama muncul dikalangan umat Islam bukanlah masalah teologi, tetapi masalah dalam bidang politik.Memang, fakta dalam sejarah menunjukkan, persoalan pertama yang muncul dikalangan umat Islam yang menyebabkan kaum muslimin terpecah ke dalam beberapa firqah (kelompok/golongan) adalah politik. Dari masalah ini kemudian lahir berbagai kelompok dan aliran teologi dengan pandangan  dan pendapat yang berbeda.

Setelah khalifah Ustman bin Affan wafat, yaitu khalifah ke tiga, sebagai calon terkuat untuk menggantikan beliau adalah Ali bin Abi Thalib dan ternyata memng demikian. Tanggal 24 Juni 656 H bertempat di Masjid Madinah beliau diresmikan menjadi khalifah yang ke empat, akan tetapi Talhah dan Zubair yang mewakili Mekkah menolak mengakui Ali, bahkan istri Nabi sendiri Aisyah termasuk yang tidak mengakui Ali. Perselisihan Ali dengan Aisyah menimbulkan peperangan yang bernama Perang Jamal dan dimenangkan oleh pihak Ali.

Untuk mencari ketenangan dalam menjalankan pemerintahan, Ali memindahkan pusat pemerintahannya ke Kuffah.Kumudian Ali memecat semua Gubernur yang diangkat oleh Khalifah Utsman bin Affan di antaranya Mu’awiyah bin Abi Sofyan yang menjabat gubernur di Damaskus.

Mu’awiyah tidak menerima pemberhentian atas dirinya. Kemudian pecahlah pertempuran anatara pasukan Ali bin Abi Thalib dan pasukan Muawiyah di Shiffin. Terjadi perdamaian dalam perang tersebut, isi dari perjanjian tersebut adalah diambil kesepakatan dari kedua belah pihak yaitu Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan, dijatuhkan dari jabatannya masing-masing.

Tahkim (arbitrase) dengan hasil demikian membuat Ali menolak keputusan itu dan tidak mau turun dari tahta kekhalifahan dan menimbulakan keresahan dikalangan umat, khususnya di pihak Ali.

Inilah awal mula terjadinya perpecahan Islam yang berawal dari persoalan politik dan kemudian lahir empat kelompok yang melahirkan aliran teologi yang berbeda.Keempat kelompok itu adalah Khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah, dan Ahussunnah wal jamaah. Di samping itu, pada saat kaum Khawarij muncul, juga muncul satu keompok pendukung setia Ali bin Abi Thalib yang dikenal dengan nama Syi’ah. Sehingga semua kelompok berjumlah lima.

Pada kali ini kita akan membahas tiga dari kelima kelompok tersebut. Diantaranya Syi’ah, Khawarij dan Murji’ah.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Aliran Khawarij

2.1.1. Pengertian Khawarij

Khawarij adalah aliran dalam teologi Islam yang pertama kali muncul. Menurut Ibnu Abi Bakar Ahmad al-Syahrastani, bahwa yang disebut Khawarij adalah setiap orang yang keluar dari imam yang hak dan telah disepakati para jama’ah, baik ia keluar pada masa Khulafaur Rasyidin, atau pada masa tabi’in secara baik-baik . Nama Khawarij berasal dari kata “kharaja” berarti keluar.Nama itu diberikan kepada mereka yang keluar dari barisan Ali.

Khawarij sebagai sebuah aliran telogi adalah kaum yang terdiri dari pengikut Ali bin Abi Thalib yang meninggalkan barisannya, karena tidak setuju tehadap sikap Ali bin abi Thalib yang menerima arbitrase sebagai jalan untuk menyelesaikan persengketaan khalifah dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Adapun yang dimaksud khawarij dalam terminology ilmu kalam adalah suatu sekte/kelompok/aliran pengikut Ali bin Abi Thalib yang keluar meninggalkan barisan karena ketidaksepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase (tahkim), dalam perang Shiffin pada tahun 37/648 M dengan kelompok Muawiyah bin Abu Sufyan perihal persengketaan khalifah.

2.1.2. Sejarah munculnya aliran Khawarij

Kelompok Khawarij pada mulanya memandang Ali dan pasukannya berada di pihak yang benar karena Ali merupakan khalifah sah yang telah di bai’at mayoritas umat Islam, sementara Muawiyah berada di pihak yang salah karena memberontak khalifah yang sah.Ali sebenarnya sudah mencium kelicikan di balik ajakan damai kelompok Muawiyah sehingga ia bermaksud menolak permintaan itu. Namun, karena desakan pengikutnya seperti Al-asy’ats bin Qais, Mas’ud bin Fudaki at-Tamimi, dan Zaid bin Husein ath -Tha’I dengan sangat terpaksa Ali memerintahkan Al-Asytar (komandan pasukanya) untuk menghentikan peperangan.

Setelah menerima ajakan damai, Ali bermaksud mengirimkan Abdullah bin Abbas sebagai delegasi juru damainya, tetapi orang-orang khawarij menolaknya. Mereka beranggapan bahwa Abdullah bin Abbas berasal dari kelompok Ali sendiri. Kemudian mereka mengusulkan agar Ali mengirim Abu Musa Al-Asy’ari dengan harapan dapat memutuskan perkara berdasarkan kitab Allah.Keputusan tahkim, yakni Ali diturunkan dari jabatannya sebagai khalifah oleh utusannya dan mengangkat Muawiyah menjadi khalifah pengganti Ali sangat mengecewakan kaum khawarij sehingga mereka membelot dan mengatakan,”mengapa kalian berhukum kepada manusia. Tidak ada hukum lain selain hukum yang ada disisi Allah” .Imam Ali menjawab, “itu adalah ungkapan yang benar, tetapi mereka artikan keliru”.Pada saat itu juga orang-orang khawarij keluar dari pasukan Ali dan langsung menuju Hurura.

Dengan arahan Abdullah al-Kiwa mereka smpai di Harura. Di Harura, kelompok khawarij ini melanjutkan perlawanan kepada Muawiyah dan juga Ali. Mereka mengangkat seorang pemimpin bernama Abdullah bin Shahab Ar -Rasyibi.

 

2.1.3. Perkembagan Khawarij di Dunia Islam

Kelompok ini muncul serta berkembang sejalan dengan Syi’ah di zaman Ali.ra, hanya saja pemikiran serta peradaban Syi’ah lebih dahulu tertuang dari pada Khawarij. Bermula dari persengketaan antara pemerintahan Ali.ra dengan Muawiyah dalam perang “Shofin”, dalam peperangan tersebut ada salah satu tentara ada yang merasa ada suatu perbedaan terjadi, sehingga tentara tersebut dngan sengaja mengangkat al-quran guna menengahi dan memisah antara keduanya, namun apa boleh dikata tentara Ali.ra terus bersikeras melawan para tentara muawiyah, sampai AllahSWT memisahkan antara keduanya.

Kemudian dari peperangan tersebut terjadilah persidangan , dari muawiyah di wakili oleh Amru bin ash, dam dari Ali.ra Abu musa al-asy’ary(pengganti Abdullah bin abas) yang di tolak oleh kelompok Khawarij sehingga di gantikan dengan Abu Musa, sampai usailah persidangan dengan keputusan Ali.ra turun dari pemerintahan dan Mu’awiyah maju. Awalnya kelompok Ali.ra sepakat dengan keputusan tersebut, tapi kelompok itupun mengeluarkan hujatan ahwa “ tiada hokum kecuali hanya milik AllahSWT”, dari situ timbullah rasa pengkhianatan sehingga penyerangan pun di luncurkan oleh golongan Mu’awiyah sampai terjadi pembunuhan serta penindasan.

2.2. Aliran Syi’ah

2.2.1. Pengertian Syi’ah

Menurut bahasa, syi’ah adalah pengikut dan pembela seseorang, atau suatu kelompok manusia yang bersatu padu dalam suatu perkara, maka kelompok itu disebut kolompok syi’ah. Dari asal katanya, Syi’ah (Bahasa Arab: شيعة, Bahasa Persia: شیعه) ialah salah satu aliran atau mazhab dalam Islam. Syi’ah menolak kepemimpinan dari tiga KhalifahSunni pertama seperti juga Sunni menolak Imam dari Imam Syi’ah. Bentuk tunggal dari Syi’ah adalah Syī`ī (Bahasa Arab: شيعي.) menunjuk kepada pengikut dari Ahlul Bait dan Imam Ali. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi’ah.

2.2.2. Sejarah munculnya aliran Syi’ah

Bibit syi’ah mulai muncul sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW.Hal tersebut tampak dari para keluarga, sahabat serta pengikut ‘Ali yang percaya bahwa setelah Nabi wafat, jabatan khalifah dan kekuasaan Islam berada ditangan ‘Ali.Pada perkembangan selanjutnya, golongan syi’ah memandang bahwa ‘Ali adalah Al-Imam setelah Rasulullah SAW.Termasuk urusan kekhalifahan adalah hak “Ali melalui wasiat Rasulullah SAW.Alasan Syi’ah mengunggulkan ‘Ali adalah jalur keturunannya, orientasi spiritualnya serta hasil perjuangannya yang kemudian akan beralih pada anak dan keturunannya. Nash mengenai imamah ‘Ali menjadi khalifah justru diyakini oleh Syi’ah bahwa kekhalifahan ‘Ali telah dinashkan dalam al-Qur’an, juga dalam salah satu hadis yang berbunyi:

انت منّى بمنزلة هارون من موسى

“Engkau bagiku seperti kedudukan Harun bagi Musa”

Dasar tersebut dijadikan pijakan oleh Syi’ah bahwa yang berhak menjadi pemimpin umat Islam setelah wafatnya Rasulullah adalah ‘Ali dan keturunannya.Bahkan yang panatik terhadap ‘Ali menganggap kepemimpinan selain ahlul bait adalah tidak sah.

2.2.3.Perkembagan Syi’ah di Dunia Islam

Selama ini Iran, yang menjadi negeri ‘kiblat’ Syiah, ternyata sedang mengalami kemajuan dalam ilmu pengetahuan dengan sangat pesat.Surat kabar Al-Haram dalam sebuah laporannya menjelaskan bahwa Iran telah berhasil meraih perkembangan ilmu tercepat rata-rata di dunia.Iran sejak tahun 1995, telah mengambil jalan untuk mengembangkan ilmunya dalam menanggapi embargo-embargo internasional, terutama lewat karya-karya ilmiahnya.

Dalam menanggapi embargo-embargo dan sanksi-sanksi internasional, sejak tahun 1995 Iran telah memilih jalan dengan memajukan ilmu pengetahuannya.Hingga kini Iran telah dihadapkan pada banyak masalah dalam mewujudkan cita-cita nasionalnya ini.Problem yang paling penting adalah larinya sebagian dari orang-orang cerdas dan embargo-embargo internasional yang diterapkan kepada negara ini. Namun kendati menghadapi sedemikian banyak rintangan, dalam interval tahun 1996 hingga tahun 2011, dalam kemajuan ilmu, Iran telah berhasil meraih kedudukan tertinggi di dunia.

2.3. Aliran Murji’ah

2.3.1. Pengertian Murji’ah              

Nama Murji’ah diambil dari kata irja atau arja’a yang bermakna penundaan, penangguhan, dan pengharapan.Kata arja’a mengandung pula arti memberi harapan, yakni memberi harapan kepada pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah.Selain itu, arja’a berarti pula meletakan di belakang atau mengemudikan, yaitu orang yang mengemudikan amal dari iman.Oleh karena itu, Murji’ah artinya orang yang menunda penjelasan kedudukan seseorang yang bersengketa yakni Ali dan Muawiyah serta pasukannya masing-masing ke hari kiamat kelak.

Aliran Murji’ah ini muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar, sebagaimana hal itu dilakukan oleh aliran khawarij.Mereka menangguhkan penilaian terhadap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim itu.dihadapan Tuhan, karena hanya Tuhan -lah yang mengetahui keadaan iman seseorang.Demikian pula orang mukmin yang melakukan dosa besar masih dianggap mukmin dihadapan mereka.

2.2.2. Sejarah munculnya aliran Murji’ah

Awal mula timbulnya Murji’ah adalah sebagai akibat dari gejolak dan ketegangan pertentangan politik yaitu soal khilafah (kekhalifahan) yang kemudian mengarah ke bidang teologi. Pertentangan politik ini terjadi sejak meninggalnya Khalifah Usman yang berlanjut sepanjang masa Khalifah Ali dengan puncak ketegangannya terjadi pada waktu perang Jamal dan perang Shiffin. Setelah terbunuhnya Khalifah Utsman Ibn Affan, umat islam terbagi menjadi dua golongan yaitu kelompok Ali dan Muawiyyah. Kelompok Ali lalu terpecah menjadi dua yaitu Syi’ah dan Khawarij.

Setelah wafatnya Ali, Muawiyyah mendirikan Dinasti Bani Umayyah (661M).Kaum Khawarij dan Syi’ah yang saling bermusuhan, mereka sama-sama menentang kekuasaan Bani Umayyah itu.Syi’ah menganggap bahwa Muawiyyah telah merampas kekuasaan dari tangan Ali dan keturunannya. Sementara itu, Khawarij tidak mendukung Muawiyyah karena ia dinilai telah menyimpang dari ajaran islam. Di antara ke tiga golongan itu terjadi saling mengkafirkan.

Dalam suasana pertentangan ini, timbul satu golongan baru yaitu Murji’ah yang ingin bersikap netral, tidak mau turut dalam praktek kafir mengkafirkan yang terjadi antara golongan yang bertentangan itu.Bagi mereka, sahabat -sahabat yang bertentangan itu merupakan orang-orang yang dapat dipercayai dan tidak keluar dari jalan yang benar.Oleh karena itu, mereka tidak mengeluarkan pendapat tentang siapa yang sebenarnya salah dan memandang lebih baik menunda penyelesaian persoalan ini ke hari perhitungan di hadapan Tuhan.

 

2.2.3. Perkembagan Murji’ah di Dunia Islam

Aliran Murji’ah ini berkembang sangat subur pada masa pemerintahan Dinasti bani Umayyah, karena bersifat netral dan tidak memusuhi pemerintahan yang sah.Dalam perkembangan berikutnya, lambat laun aliran ini tak mempunyai bentuk lagi, bahkan beberapa ajarannya diakui oleh aliran kalam berikutnya.Sebagai aliran yang berdiri sendiri, golongan Murji’ah ekstrim pun sudah hilang dan tidak bisa ditemui lagi sekarang.Namun ajaran-ajarannya yang masih ekstrim itu masih didapati pada sebagian umat Islam yang menjalankan ajaran-ajarannya.Kemungkinan mereka tidak sadar bahwa mereka sebenarnya mengikuti ajaran-ajaran golongan Murji’ah ekstrim.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1. Simpulan

Aliran Syi’ah merupakan aliran pertama yang muncul di kalangan umat Islam. Aliran ini dilatarbelakangi oleh pendukung ahlul bait yang tetap menginginkan pengganti Nabi adalah dari ahlul bait sendiri yaitu Ali bin Abi Thalib. Mereka mempunyai doktrin sendiri dalam alirannya, salah satunya tentang Imamah. Mereka berpendapat bahwa pengganti Nabi yang pantas menjadi pemimpin adalah seseorang yang ma’shum(terhindar dari dosa). Dalam perkembangannya, Syi’ah dianggap aliran sesat.Banyak yang menganggap bahwa Syi’ah adalah Islam.Hal ini sangat berbeda sekali, karena antara Islam dan Syi’ah sangat jauh sekali tentang ajaran aqidahnya.Khawarij adalah aliran teologi yang pertama muncul kelompok ini muncul serta berkembang sejalan dengan Syi’ah di zaman Ali.ra, hanya saja pemikiran serta peradaban Syi’ah lebih dahulu tertuang dari pada Khawarij.Awal mula timbulnya Murji’ah adalah sebagai akibat dari gejolak dan ketegangan pertentangan politik yaitu soal khilafah (kekhalifahan) yang kemudian mengarah ke bidang teologi.Pertentangan politik ini terjadi sejak meninggalnya Khalifah Usman yang berlanjut sepanjang masa Khalifah Ali dengan puncak ketegangannya terjadi pada waktu perang Jamal dan perang Shiffin. Setelah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, umat islam terbagi menjadi dua golongan yaitu kelompok Ali dan Muawiyyah. Aliran Murji’ah ini berkembang sangat subur pada masa pemerintahan Dinasti bani Umayyah, karena bersifat netral dan tidak memusuhi pemerintahan yang sah.Dalam perkembangan berikutnya, lambat laun aliran ini tak mempunyai bentuk lagi, bahkan beberapa ajarannya diakui oleh aliran kalam berikutnya.Dari ketiga Aliran diatas yang masih berkembang adalah aliran Syi’ah, dimana aliran ini dikenal oleh masyarakat dengan aliran sesat.Untuk aliran Khwarij dan Murji’ah saat ini memang sudah tiada lagi namun ajaran-ajarannya masih ada hingga sekarang.

DAFTAR PUSTAKA

Asmuni, Drs. H. M. Yusran. 1988.Pengantar Ilmu Tauhid. CV. Pedoman Ilmu Jaya: Jakarta.

Asmuni, Drs. H. M. Yusran. 1993. Ilmu Tauhid. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta.

M.Ag., Anwar, Rosihan, DR; M.Ag., Rozak, Abdul, Drs. 2010. Ilmu Kalam. Bandung: CV Pustaka Setia.

Abu Zahrah, Imam Muhammad. 1996. Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam. Jakarta: Logos Publishing House.

M.Pd.I., A. Nasir, K.H. Sahilun. 2010. Pemikiran Kalam(Teologi Islam). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Ridho, Minal. 2013. Perkembangan Aliran Murji’ah. [online]. Tersedia: http://minalridho.blogspot.com/2013/04/sejarah-aliran-murjiah.html. [20 Oktober 2013].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s