AKAL DAN WAHYU


Pengertian dan Konsep Akal

otakKata akal berasal dari kata Arab al-‘Aql (العـقـل), yang berarti paham dan mengerti. sehingga dapat diambil arti bahwa akal adalah peralatan yang dianugerahkan Allah SWT. kepada manusia untuk membedakan serta menganalisis antara yang salah dan yang benar.

Dalam pandangan para filosof islam, kata al-‘aql mengandung arti yang sama dengan kata Yunani “nouse”, yang berarti daya berfikir yang terdapat dalam jiwa manusia. Abu Huzail mengatakan “akal merupkan daya untuk memperoleh pengetahuan, dan juga daya yang membuat seseorang dapat membedakan antara dirinya dan benda lain, dan juga antara benda yang satu dari yang lain”. Sedangkan menurut kaum teolog, akal juga mempunyai daya untuk membedakan antara kebaikan dan kejahatan.

Dalam pemahaman Prof. Izutzu, kata ‘aql di zaman jahiliyyah dipakai dalam arti kecerdasan praktis yang dalam istilah psikologi modern disebut kecakapan memecahkan masalah. Orang berakal, menurut pendapatnya adalah orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan masalah. Sedangkan Muhammad Abduh berpendapat bahwa akal adalah suatu daya yang hanya dimiliki manusia dan oleh karena itu dialah yang membedakan manusia dari mahluk lain.

Sehingga dapat diambil kesimpulan, akal adalah anugerah atau kelebihan yang diberikan Allah SWT. kepada umat manusia yang berfungsi untuk berpikir, sehingga diperoleh pemahaman dan pemecahan terhadap suatu masalah. Dan dengan akal inilah, Allah SWT. meninggikan derajat manusia diatas mahluk-mahluk yang lain.

Fungsi Akal

Adapun, beberapa fungsi dari akal adalah sebagai berikut :

  1. Tolak ukur akan kebenaran dan kebatilan.
  2. Alat untuk mencerna berbagai hal dan cara tingkah laku yang benar.
  3. Alat penemu solusi ketika permasalahan datang.
  4. melihat secara abstrak dalam arti berfikir (nazara)
  5. merenungkan (Tadabbara), berfikir (Tafakkara) dan mengerti atau paham (Faqiha)
  6. mengingat, memperoleh peringatan, mendapat pelajaran, memperhatikan dan mempelajari. (Tazakkara)

Dan masih banyak lagi fungsi akal, karena hakikat dari akal adalah sebagai mesin penggerak dalam tubuh yang mengatur dalam berbagai hal yang akan dilakukan setiap manusia,  yang akan meninjau antara baik dan buruk serta akibat yang ditimbulkan dari hal dikerjakan tersebut. Dan  Akal adalah jalan untuk memperoleh iman sejati, iman tidaklah sempurna ketika tidak didasarkan akal. Iman harus berdasar pada keyakinan, bukan pada pendapat. Dan akal yang menjadi sumber keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa.

  Pengertian dan Konsep Wahyu

qur'an sebagai wahyuKata wahyu berasal dari kata arab الوحي, yang secara etimologi berarti suara, bisikan, isyarat dan kecepatan. Wahyu sering disebut sebuah pemberitahuan tersembunyi dan cepat kepada seseorang yang terpilih tanpa seorangpun yang mengetahuinya.

Menurut Muhammad Abduh dalam Risalatut Tauhid berpendapat bahwa wahyu adalah pengetahuan yang di dapatkan oleh seseorang dalam dirinya sendiri disertai keyakinan bahwa semua itu datang dari Allah SWT.,  baik melalui perantara maupun tanpa perantara. Baik menjelma seperti suara yang masuk dalam telinga ataupun lainya.

Sedangkan, pengertian wahyu secara terminologi adalah firman (petunjuk) Allah SWT. yang disampaikan kepada para nabi dan auliya’ untuk disampaikan kepada umatnya sebagai pedoman hidup. Karena wahyu bersumber dan datang dari Allah SWT., maka wahyu bersifat mutlak (absolut). Dalam islam wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. terkumpul dalam Al-Qur’an. Sehingga dalam defenisi yang lebih ringkas, wahyu adalah “كلام الله تعالى المنزل على نبي من أنبيائه”(Kalam Allah SWT. kepada para nabi-Nya).

 

Fungsi wahyu

Wahyu berfungsi memberi informasi bagi manusia. Yang dimaksud memberi informasi disini yaitu wahyu memberi tahu manusia, bagaimana cara berterima kasih kepada Tuhan, menyempurnakan akal tentang mana yang baik dan yang buruk, serta menjelaskan perincian upah dan hukuman yang akan di terima manusia di akhirat.

Wahyu secara tersirat adalah senjata yang diberikan Allah SWT. kepadaNabi-Nya untuk melindungi diri dan pengikutnya dari ancaman orang-orang yang tak menyukai keberadaanya, dan juga sebagai bukti bahwa beliau adalah utusan sang pencipta yaitu Allah SWT.

 

Cara Wahyu Allah SWT. Turun Kepada Para Rasul

Adapun cara penyampaian wahyu kepada para rasul dijelaskan dalam tabel berikut :

Tanpa melalui peranta

Melalui perantara malaikat

Mimpi yang benar dalam tidur

(kisah nabi Ibrahim yang mendapat wahyu untuk menyembelih putranya ketika tidur).

Datang kepadanya suara seperti dencingan lonceng dan suara yang sangat kuat sehingga mempengaruhi faktor-faktor kesadaran.

Kalam ilahi dari balik tabir tanpa melalui perantara (ketika I’sra’ dan Mi’raj nabi ).

Malaikat menjelma sebagai seorang laki-laki dalam bentuk manusia.

Hubungan dan Integrasi Antara Akal dan Wahyu Dalam Islam

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT. yang paling sempurna. Hal yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah akal, yang dengannya manusia diberi kemampuan oleh Allah SWT. untuk berpikir. Akal yang dimiliki manusia digunakan untuk memilih, mempertimbangkan, dan menentukan jalan pikirannya sendiri. Dengan menggunakan akal, manusia mampu memahami Al-Qur’an yang diturunkan sebagai wahyu oleh Allah SWT. kepada nabi Muhammad SAW. Dengan akal pula, manusia mampu menelaah sejarah islam dari masa lampau sampai masa sekarang. Akal juga digunakan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Dalam ajaran agama Islam, ada dua jalan untuk memproleh pengetahuan, pertama dengan jalan akal, kedua dengan jalan wahyu. Kemudian timbul pertanyaan, pengetahuan mana yang lebih dipercaya, pengetahuan yang diperoleh melalui akal, pengetahuan melalui wahyu, atau pengetahuan yang diperoleh melalui kedua-duanya ?

Akal merupakan indikator bagi manusia sehingga dikatakan makhluk paling sempurna dibanding dengan yang lain.  Akan tetapi, meskipun demikian akal bukanlah penentu segalanya. Ia tetap memiliki kemampuan dan kapasitas yang terbatas. Oleh karena itulah, Allah SWT. menurunkan wahyu-Nya untuk membimbing manusia agar tidak tersesat.

Kedudukan wahyu terhadap akal manusia adalah seperti cahaya terhadap indera penglihatan manusia. Oleh karena itulah, Allah SWT. menurunkan wahyu-Nya untuk membimbing manusia agar tidak tersesat.

Meletakkan akal dan wahyu secara fungsional akan lebih tepat dibandingkan struktural, karena bagaimanapun juga akal memiliki  fungsi sebagai alat  untuk memahami wahyu, dan agar wahyu tersebut dapat dijadikan petunjuk dan pedoman kehidupan manusia, maka  harus melibatkan akal untuk memahami dan menjabarkannya secara praktis. Manusia diciptakan oleh tuhan dengan tujuan yang jelas, yakni sebagai hamba Allah SWT. dan khalifah, dan untuk mencapai tujuan  tersebut manusia dibekali akal dan wahyu.

Kedudukan antara wahyu dalam islam sama-sama penting. Karena islam tak akan terlihat sempurna jika tak ada wahyu maupun akal. Dan kedua hal ini sangat berpengaruh dalam segala hal dalam islam. Dapat dilihat dalam hukum islam, antar wahyu dan akal ibarat penyeimbang.

Setelah mengetahui bahwa akal adalah daya untuk memperoleh pengetahuan dengan memakai kesan-kesan yang diperoleh pancaindera sebagai bahan pemikiran untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan; dan wahyu adalah sabda Tuhan yang disampaikan kepada orang-orang pilihanNya (nabi dan rasul) untuk umat manusia, yang dari sabda Tuhan itu manusia memperoleh keterangan dan pengetahuan yang diperlukan dalam perjalanan hidupnya, maka nyatalah akal dan wahyu itu sebagai sumber pengetahuan manusia.

Opini penulis

Menurut penulis, wahyu berfungsi menyempurnakan dan membimbing hasil penemuan akal agar tidak terjerumus pada kesesatan. Seperti apabila kita mengamati dari mana asalnya apel? Akal akan mencari sumber asal apel tersebut, ternyata ditemukanlah apel berasal dari pedagang. pedagang dari mana, dari petani. petani dari mana, dari kebun. maka terlihat di kebun apel tersebut ternyata apel tumbuh dari pohon apel. Siapa yang menumbuhkan pohon tersebut? ternyata apabila dipikirkan, bukanlahh petani yang membuat tumbuh pohon apel, karena petani hanya mampu berharap bahwa benih pohon yang ditanam tumbuh dengan subur, petani tidak mampu untuk menentukan apakah pohon apel akan tumbuh subur dan berbuah apel bukan buah tomat ataupun buah yang lain.

Berarti dari simulasi tersebut akal mampu menemukan apel bersal dari pohon yang ditanam petani. selanjutnya akal berpikir lagi, siapa yang membuat pohon apel tersebut tumbuh? Akal akan menjawab pasti ada satu Dzat yang Maha segalanya yang mengatur ini semua. Pertanyaannya, siapa Dia? Akal akan menjawab itulah Tuhan. siapa Tuhan itu? Disini titik kebuntuan akal, karena tidak mampu mengetahui Tuhannya siapa! Oleh karenanya, semenjak zaman nenek moyang akal mencari Tuhan, maka akal memukan bahwa Tuhan itu roh-roh suci, maka lahirlah aliran animisme. Ada juga yang menemukan Tuhan itu dalam benda-benda tertentu, maka lahir pula aliran dinamisme dan lain sebagainya.

Tetapi ketika akal dibimbing oleh wahyu, maka akal akan menemukan Tuhan yang sebenarnya, yaitu Allah SWT. Melalui dengan firmanNya QS al-Baqarah:22: “Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah SWT., padahal kamu mengetahui.”

Dilihat dari kenyataan di atas, akal akan buntu dalam pemikirannya apabila tidak dibimbing oleh wahyu. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa akal adalah alat pencari kebenaran yang harus dilegitimasi oleh wahyu, agar kebenaran tidak menjadi abstrak dan relativistis serta sesuai dengan aturan Allah SWT.

BAB III

PENUTUP

 Kesimpulan

Dari uraian yang di berikan diatas dapatlah disimpulkan :

  1. Akal adalah anugerah atau kelebihan yang diberikan Allah SWT. kepada umat manusia yang berfungsi untuk berpikir, sehingga diperoleh pemahaman dan pemecahan terhadap suatu masalah. Dan dengan akal inilah, Allah SWT. meninggikan derajat manusia diatas mahluk-mahluk yang lain.
  2. Wahyu adalah petunjuk dari Allah SWT. yang disampaikan kepada nabi-Nya baik untuk dirinya sendiri maupun untuk disampaikan kepada umat yang berfungsi sebagai pedoman hidup. Kedudukan wahyu terhadap akal manusia adalah seperti cahaya terhadap indera penglihatan manusia
  3. Hubungan antara akal dan wahyu yakni : akal berfungsi untuk memahami wahyu, dan wahyu berfungsi untuk meluruskan kerja akal.

Akal dan wahyu digunakan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan bagi umat manusia. Antara akal dan wahyu terdapat ruang dimana keduanya dapat bertemu dan bahkan saling berinteraksi, yakni pada saat wahyu merekomendasikan berkembangnya pengetauan dengan memberikan ruang kebebasan bagi akal untuk berpikir dengan dinamis, kreatif dan terbuka. Sehingga hubungan antara akal dan wahyu tidak bertentangan akan tetapi sangat berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya, bahkan kedua-duanya saling menyempurnakan.

Saran

Kami mengharapkan para pembaca bisa mengambil pelajaran dari makalah kami ini, dan member kritikan dari setiap kesalahan yang ada karena kami manusia biasa yang dhaif, dan jika ada benarnya itu semata-mata dari Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA

Asy’arie, Musa. 1992. Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al-Qur’an. Yogyakarta: Lembaga studi Filsafat Islam.

Nash Hamid Abu Zaid. 2001;  Tekstualitas Al-Qur’an: Kritik Terhadap Ulumul Qur’an, Yogyakarta : LKIS,

Nasution, Harun. 1986; Akal Dan Wahyu Dalam Islam, Jakarta : Universitas Indonesia.

http://syariah99.blogspot.com/2013/05/akal-dan-wahyu.html

http://www.referensimakalah.com/2012/04/definisi-dan-pengertian-wahyu_9054.html

http://alfarabi1706.blogspot.com/2012/10/konsep-wahyu.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s