Sejarah Arab Pra Islam


 

1.1  Latar Belakang Masalah

Sejarah bangsa Arab sebelum datangnya Islam tidak dapat diketauhi dengan tepat. Hal ini disebabkan oleh mereka tidak memiliki kesatuan politik, dikarenakan sebagian besar penduduknya merupakan kelompok-kelompok yang suka berpindah-pindah tempat (nomaden). Hal seperti ini menjadikan kehidupan mereka penuh dengan kekerasan dan pertentangan yang merebutkan daerah-daerah subur yang jumlahnya sangat terbatas untuk menggembalakan ternak mereka. Kemudian, budaya tulis-menulis belum mereka kenal, sehingga kebanyakan masih buta aksara. Hal ini mengakibatkan tidak adanya penulisan sejarah pada masa itu, sebelum akhir pemerintahan bani Umayyah (132 H atau 750 M). Sebelumnya budaya dan tradisi mereka hanya dikisahkan secara lisan.

Negeri Arab terletak di sebelah Barat-daya Asia dan merupakan semenanjung yang dikelilingi oleh Laut Merah, samudera Hindia, dan teluk Persi. Negeri itu dapat juga disebut dengan kepulauan Arabia (Jazirah Arab). Jazirah ini sebagian besar terdiri dari padang pasir, walaupun di daerah itu terdapat juga air dan tumbuh-tumbuhan. Sebagian besar wilayahnya terdiri dari daerah pegunungan dan bukit pasir dengan lembah-lembah yang rendah dan dataran tinggi.

1.2  Rumusan Masalah

  1. Bagaimana bangsa Arab pra-Islam pada aspek Geografis?
  2. Bagaimana bangsa Arab pra-Islam pada aspek Politik ?
  3. Bagaimana bangsa Arab pra-Islam pada aspek Kepercayaan ?
  4. Bagaimana bangsa Arab pra-Islam pada aspek Kesusatraan ?
  5. Bagaimana bangsa Arabpra-Islam pada aspek Sosial ?

 

 

 

 

1.3  Tujuan Penulisan

  1. Untuk memahami aspek geografis,sosial,politik,kepercayaan,kesusatraan, dan sosial pada peradaban pra-Islam.
  2. Mengetahui sejarah  kehidupan dan keberagaman Bangsa Arabpra-Islam.

BAB II

PEMBAHASAN MASALAH

 

2.1 Bangsa Arab sebelum Islam           

Bangsa Arab adalah penduduk asli Jazirah Arab.Semenanjung yang terletak di bagian Barat daya Asia ini, sebagian besar permukaannya terdiri dari padang pasir.Secara umum iklim di jazirah Arab amat panas, bahkan termasuk yang paling panas dan paling kering di muka bumi. Para ahli geologi memperkirakan, daratan Arab dahulu merupakan sambungan padang pasir yang terbentang luas dari sahara di Afrika sampai gurun Gobi di Asia Tengah. Tidak terdapat satu sungaipun di Jazirah ini, kecuali di bagian Selatan,yang selalu berair dan mengalir sampai ke laut,selain wadi-wadi yang hanya berair selama turun hujan, padahal hujan hampir tidak pernah turun di kawasan padang pasir yang luas ini.

Bangsa Arab termasuk rumpun bangsa Smit, yaitu keturunan Sam ibn Nuh, serumpun dengan bangsa Babilonia, Kaldea, Asyuria, Ibrani, Phunisia, Aram, dan Habsyi. Bangsa Arablah rumpun Smit yang sampai sekarang masih bertahan, sedangkan sebagian besar yang lain sudah lenyap dan tidak dikenal lagi. Para sejarawan Arab membagi bangsa Arab atas dua kelompok besar, yaitu Arab Baidah dan Arab Baqiyah. Arab Baidah adalah bangsa Arab yang sudah punah jauh sebelum umat Islam lahir. Riwayat tentang mereka tidak terlalu banyak diketahui, selain yang termaktub di dalam kitab-kitab suci agama Samawi dan yang terungkap dalam syair-syair Arab klasik,semisal kaum ‘Ad dan kaum Tsamud. Adapun, Arab Baqiyah terbagi atas Arab ‘Aribah dan Arab Muta’ribah. Arab Aribah dinamakan pula Qahthaniyah dinisbahkan kepada Qahthan moyang mereka, atau Yamaniyah dinisbahkan kepada Yaman tempat asal persebaran mereka. Bangsa Arab meyakini, bahwa dari bahasa Qahthan inilah asal bahasa mereka, Adapun Arab Musta’ribah adalah keturunan Ismail a.s. ibn Ibrahim a.s. Oleh karena itu, mereka dinamakan pula Ismailiyah. Mereka disebut Musta’ribah karena Ismail sendiri bukan keturunan Arab. Ia keturuna Ibrani yang lahir dan dibesarkan di Mekah yang pada waktu itu berada dibawah kekuasaan kabilah Jurhum dari Yaman.

Dari Segi pemukiman, bangsa Arab dapat dibedakan atas ahl al-badwi dan ahl al-hadlar. Kaum Badwi adalah penduduk padang pasir. Mereka tidak memiliki tempat tinggal tetap, tetapi hidup secara nomaden, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari sumber mata air dan padang rumput. Mata penghidupan mereka adalah beternak kambing, biri-biri, kuda dan unta. Kehidupan masyarakat Badwi yang nomaden tidak banyak memberi peluang kepada mereka untuk membangun peradaban. Oleh karena itu sejarah mereka tidak diketahui dengan tepat dan jelas.

 

2.2Bangsa Arab pra-Islam pada aspek Geografis

Dinamikanya Arab bukan berarti bangsa Arab saja yang mendiaminya melainkan mereka menjadi kelompok mioritas di dalamnya. Letak Jazirah Arab ini di ujung Barat Daya Asia. Sebelah Utara berbatasan dengan Syam, sebelah Timur dengan Persia dan laut Oman, sebelah Selatan oleh Samudra India dan sebelah Baratnya dibatasi laut Merah. Untuk memahami geografis Arab ini bisa di persempit ke dalam 2 wilayah yaitu Yaman dan Hijaz. Perbedaan kedua daerah tersebut dapat dilihat di bawah ini:

No Yaman Hijaz
1. Berada di ArabSelatan ArabUtara
2. Merupakan turunan dari Qohthon Keturunan Ismail bin Ibrahin
3. Identik denganyamaniyyun Identik dengan Adnanniyyun
4. Hidup menetap (Q.S Saba’ :15) Masih mengembara dan tidak menetap

Secara rinci ke-2 daerah di atas dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Hijaz adalah daerah yang tanahnya tandus namun merupakan jalan perdagangan yang menghubungkan anatara Syam dan Yaman. Kondisi ini berdampak pada psikologis penduduknya dimana mereka selalu berpindah-pindah dan tidak mau berusaha untuk hidup lebih baik.
  2. Sedangkan Yaman dari dahulu terkenal dengan tanahnya subur dan kaya. Geografis Arab di atas di pertegas dengan pernyataan Abdul Razak, dikatakan bahwa lingkungan bangsa Arab adalah padang pasir yang tandus, sangat kurang air dan tidak ada suatu ketenangan hidup untuk menetap dalam suatu tempat.

Kedua daerah diatas semakin menjelaskan struktur masyarakat yang dihadapi Nabi dalam menjalankan dakwahnya. Kesulitan nabi atau pun kemudahannya, salah satunya dipengaruhi oleh aspek geografis. Penduduk Madina misalnya, sangat mudah dan cepat menerima ajaran baru dikarenakan aspek geografis mendukung. Sebaliknya daerah Makkah dan sekitarnya terkesan sulit dalam menerima ajaran baru dikarenakan geografis daerahnya pun menggambarkan itu.

 

2.3 Bangsa Arab pra-Islam pada aspek Politik

Jazirah Arab pra-Islam di apit 2 kerajaan besar, kerajan Romawi Timur disebelah Barat dan kerajaan Persia disebelah Timur. Daerah utama kerajaan Romawi adalah Rum (Turki dan Eropa sekarang), Asia Kecil, Siria (Syam), Mesir, Afrika Utara dan Etiopia. Sedangkan kerajaan Persia meliputi Iran, Irak dan wilayah Teluk Persia dan Jazirah Arab bagian Utara. Ke-2 kerajaan tersebut tidak pernah sepi dari peperangan, akibatnya rakyat ke-2 kerajaan hidup dalam penderitaan. Jazirah Arab sendiri merupakan daerah netral, sehingga dapat dikatakan Islam yang dasarnya diletakkan oleh Nabi di Mekkah dan Madina adalah agama yang murni, tidak dipengaruhi baik oleh perkembangan agama-agama yang ada di sekitarnya maupun kekuasaan yang melingkupinya.

Berbicara mengenai pemerintahan di kalangan bangsa Arab pra-Islam terbuktikan dengan adanya kerajaan-kerajaan seperti berikut, yaitu:

  1. Arab Baidah

Mereka mendirikan kerajaan Aad, kaum Tsamud dan kerajaan Al Ambath (Amaliqh). Data pendukung di sinyalir sangat sulit di temukan. Daerah kekuasaan meliputi Irak, Syiria, India, dan Mesir.

  1. Arab Aribah yang sering disebut Qathinayah

Kerajaan yang didirikan berada di Yaman yaitu kerajaan Mainiyah, Sabaiyah (610-115 SM) yang terkenal dengan bendungan Ma’rib (Sad Al Ma’rib) dan Himyariyah yang identik dengan peperangan dan perluasan wilayah.

  1. Arab Musta’rabah yang berpusat di Mekkah dan Yastrib

Kerajaan yang ada pada periode ini adalah kerajaan Ghassaniah yang merupakan buffer statenya Romawi dan menjadikan agama kristen sebagai agama resminya. Sedangkan Hirah merupakan buffer statenya Persia yang pada perkembangan selanjutnya di ambil alih oleh orang Persia.

Namun dalam referensi lain diaktakan, bahwa keadaan politik sebelum Islam bisa dibagi menjadi 3, yaitu:

  1. Kabilah Badui (pedalaman), merupakan kabilah yang hidupnya terpencar-pencar dan diikat oleh ikatan darah dan fanatisme. Dalam keadaan ini, tidak ada kerajaan karena adanya ketidak tundukan anatara satu kabilah dengan kabilah lain.
  2. Kerajaan Kindah (480-529), pendirinya adalah hajar Akil al-Mirar, mereka tunduk dibawah kerajaan Himyar.
  3. Kerajaan diperkotaan yang terletak di 3 kawasan yaitu Yaman, wilayah Utara dan Hijaz.

Adapun rincian kerajaan di masing-masing ini dapat dipahami dari bagan dibawah ini:

Kerajaan di perkotaan

Wil.Utara

Yaman

Hijaz

Himyar

Ker. Anbath  (400 SM-105 SM)

Saba’ – Ratu Bilqis&bendungan Ma’rabn

Main dan Qathan  (1200-700 SM)

Tadmur

Quraisy

Ghasam

Hirah

Kerajaan-kerajaan di atas secara umum dapat dikatakan dalam kondisi politik yang labil dimana satu sama lain selalu disibukkan untuk mempertahankan diri atau memperluas kekuasaan. Hal ini dipertegas dengan pernyataan Karen Amsrong bahwa seluruh Arab dalam kondisi perpecahan kronis, setiap suku Badui di Jazirah Arab memiliki hukum sendiri dan dalam keadaan selalu berperang dengan kelompok suku lainnya.

.

2.4  Bangsa Arab pra-Islam pada aspek Kepercayaan

Sebelum lahir, di Arab telah berkembang berbagai jenis agama, ada yang asli seperti penyembahan berhala atau paganisme dan agama yang berasal dari wilayah lain, seperti Yahudi, Nasrani, Majusi, atau Zoroaster.

Menurut Nurcholis Nadjid, masyarakat Arab telah mengenal agama tauhid semenjak kehadiran Ibrahin AS.

  1. Penyembahan berhala atau paganisme

Penyembahan berhala dilakukan dengan berbagai cara oleh bangsa Arab. Beberapa cara penyembahan berhala itu adalah sebagai berikut:

1)      Para penyembah berhala berjalan mengelilingi atau tawaf berhala atau patung. Sambil berkeliling, mereka berdoa untuk meminta pertolongan. Mereka mengelilingi ka’bah yang dipenuhi 360 berhala di sekitarnya sambil bertelanjang. Ada patung yang terbesar di Ka’bah, namanya Hubal. Mereka berhenti apabila berhala tersebut telah memberi tanda bahwa permintaan mereka dikabulkan.

2)      Para penyembah berhala mempersembahkam hewan kurban di hadapan mereka. Kemudiana, mereka megatakan pemintaannya sambila menyebut-nyebut nama berhala tersebeut. Mereka meyakini bahwa permintaannya akan cepat terkabul apabila mereka menyembelih hewan kurban.

3)      Para pennyembah berhala menyediakan sesajen di hadapan berahala. Sesajken itu bisa berupa makanan, minuman atau hasil panen. Sesajen itu ditujukan sebagai ucapan terima kasih kepada berhala karena memberikan keberhasilan dalam kehidupan.

4)      Para penyembah berhala memberikan sesajen di tempat-tempat yang dianggap keramat sebagai penghormatan kepada jin atau roh nenek moyang yang membuat tempat itu.

Sebagian bangsa Arab memuja malaikat. Mereka meyakini bahwa malaikat adalah anak perempuan Tuhan.

  1. Agama majusi atau Zoroaster

Agama ini merupakan agama Persia kuno. Nama lainnya adalah Mazdaisme. Tuhannya Ahura Mazda. Pada awalnya, agama Majusi mengerjakan penyembahan kepada banyak dewa Kitab sucinya ialaha avesta dan dilengkapi dengan kitab. Ahura Avesta dilambangkan sebagai api yang memeberikan cahaya dan menerangi dan penghormatannya dilakukan di hadapan api suci.

  1. Agama Yahudi

Bersumber dari ajaran nabi Musa. Kitab suci agama Yahudi adalah taurat. Akan tetapi, pemeluk agama ini menyimpang dari apa yang diajarkan Nabi Musa. Mereka tidak mempercayai kenabian Isa dan Muhammad SAW. Padahal, Taurat menyebutka bahwa sesudah Nabi Musa akan datang nabi-nabi berikutnya.

Sebab mereka merasa derajat mereka paling tinggi di dunia. Penganutnya Bani israil pada saat itu.

  1. Agama Nasrani atau Kristen

Bersumber dari ajaran Nabi Isa. Kitab sucinya adalah Injil atau Al-Kitab. Seperti halnya yahudi, Kristen juga menyimpang dari ajaran Nabi Isa. Setelah Nabi Isa diangkat oleh Allah SWT, mereka meyakini bahwa Nabi Isa adalah anak Tuhan.  Mereka meyakini bahwa Tuhan terdiri dari Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus. Keyakinan itu disebut Trinitas.  Mereka juga digolongkan dalam Ahlul Kitab.

Dari sekian agama-agama tersebut diatas, ada juga yang karena ajaran agama Ibrahim masih berbekas di kalangan bangsa Arab sehingga mereka tidak menyukai menyembah berhala.Mereka ialah Waraqah bin naufal dan Usman bin Hawaris yang menganut Kristen, Abdullah Ibnu Jahsy yang ragu-ragu (ketika Islam datang, ia menganutnya tetapi kemudian ia menganut Majusi). Zaid bin Umar tidak tertarik kepada Majusi, tetapi juga enggan menyembah berhala sehingga ia mendirikan agama sendiri dengan menjauhi berhala dan tidak mau memakan bangkai dan darah.

Bekas ajaran nabi Ibrahim yang masih terasa ialah penyebutan Allah sebagai Tuhan, dan Ibadah Haji. Secara fisik peninggalan Ibrahim dan Ismail yang masih terpelihara ialah Baitullah atau Ka’bah yang berada di pusat kota Mekkah.

 

2.5    Bangsa Arab pra-Islam pada aspek Kesusatraan     

Dalam aspek ini, masyarakat Arab pra-Islam sangat maju. Bahasa mereka sangat indah dan kaya. Genre sastra Arab Jahiliyah yang paling populer ialah jenis puisi atau syair, disamping sedikit Amsal (semacam kata pepatah atau kata-kata mutiara ), dan pidato yang pendek yang disampaikan oleh para pujangga, yang disebut prosa liris.

Syair-syair mereka sangat banyak. Dalam lingkungan mereka seorang penyair sangat dihormati. Tiap tahun di Pasar Ukaz di adakan deklamasi sajak yang luas. Sastra mempunyai arti penting dalam kehidupan bangsa Arab. Mereka mengabadikan peristiwa-peristiwa dalam syair yang di perlombakan setiap tahun di pasar seni Ukaz Majinnah, dan Zu Majas. Sastra Arab pra-Islam adalah cerminan langsung bagi kehidupan bangsa Arab tersebut.

Ada dua sistem kesusastraan yang diterapkan masyarakat Arab pra-Islam, yaitu:

  1. Khitbah (berpidato) sangat maju, dan inilah satu-satunya publistik yang amat luas lapangannya. Sebagai penyair, orang-orang Arab sangat fasih berpidato, dengan bahasa yang maha indah dan bersemangat. Ahli pidato mendapat derajat tinggi dalam masyarakat, sama halnya dengan penyair.
  2. Majelis Al-Adab dan sauqu Ukaz telah menjadi kelaziman masyarakat Arab pra-Islam, yaitu mengadakan majelis ini atau Nadwa (klub), di tempat mana mereka mendeklarasikan sajak, bertanding pidato tukar-menukar berita dan sebagainya. Terkenallah dalam kalangan mereka “Nadi Quraisy” dan “Darun Nadwah” yang berdiri di samping Ka’bah. Mereka juga mengadakan Aswaq (pekan) dalam waktu tertentu. Tiap- tiap ada Sauq berkumpullah ke saa para saudagar dengan barang dagangannya, penyair dengan sajak-sajaknya, dan ahli pidato dengan khutbah-khutbahnya. Aswaq yang sangat terkenal ialah Sauqu Ukaz atau “Pekan Ukaz” yang diadakan pada suatu tempat tiada jauh dari kota Mekkah menuju Thaf, yakni Pasar Ukaz.

2.6    Bangsa Arab pra-Islam pada aspek Sosial

Secara sosial bangsa Arab mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dan kekurangannya tersebut secara detail diungkap Rustam Ibarahim seperti di bawah ini:

Kelebihan atau kebaikan orang Arab pra-Islam, yaitu:

  1. Halus tutur bahsanya mereka sudah mempunyai kesastraan tinggi. Terbukti dengan  banyaknya ahli sastra yang masyhur seperti, Umrul qais, An-Nabighah dan lainnya.
  2. Sangat hormat kepada tamu, mereka persiapkan segala keperluan tamu selama masih menjadi tamunya.
  3. Suka berterus terang menyatakan apa adanya apa yang ada di hatinya.
  4. Berani dan setia pada anggota sukunya. Mereka bersedia bertempur guna mempertahankan nama baik kabilah dan anggotanya.

Sedangkan kekurangannya adalah sebagai berikut:

  1. Hidup menyamun dan merampok kabilah di padang pasir itu.
  2. Memandang rendah kaum wanita.
  3. Suka berjudi dan minuk khamar.
  4. Tidak mau tunduk kepada suatu susunan pemerintah yang baik.
  5. Sangat mudah tersinggung sehingga soal yang kecil dapat menumpahkan darah besar-besaran.

Gambaran di atas sangatlah penting diketahhui untuk pembahsan peradaban Islam di Timur Tengah berikutnya. Secara tidak langsung peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam proses peradaban Islam tidak pernah terlepas dari watak atau adat istiadat bangsa Arab. Adapun bangsa Arab yang menetap berhasil mendirikan kerajaan jauh sebelum datangnya Islam bisa dikatakan lebih berbudaya. Keempat kondisi diatas setidaknya meyakinkan kita, bahwa kedatangan Islam di masa dan tempat yang tepat. Ini ajaran Islam yang damai laksa siraman air yang menyejukan suasana, sehingga siapa pun orangnya pastilah menginginkannya.

BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Bangsa Arab pra-Islam berasal dari berbagai suku dengan latar belakang sosial dan kepercayaan yang berbeda. Peradaban Arab pra-Islam boleh dikatakan sudah maju tapi masih terdapat penyimpangan terutama masalah kepercayaan. Bangsa Arab pra-Islam sangat menjunjung tinggi kesusastraan. Mengenai pemerintahan, di kalangan bangsa Arab pra-Islam terbukti dengan adanya kerajaan-kerajaan Arab baidah, Arab Aribah, dan Arab Musta’rabah yang berpusat di Mekkah dan Yastrib. Serta dalam aspek Sosial, bangsa Arab pra-Islam mempunyai kelebiha dan kekurangan juga.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Siti Maryam dkk. (ed.).Sejarah Peradaban islam: Dari Masa Klasik Hingga Masa Modern. Yohyakarta: LESFI. 2003.

Abubakar, M. Ag.Istianah. Sejarah Peradaban Islam.Malang: UIN-MALANG PRESS. 2008.

H. Maman A. Malik-Sy dan Gusnam haris. Kebudayaan Islam-Sejarah. Yogyakarta: Pokja Akademi UIN Sunan Kalijaga. 2005.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s